Pilihan Bahasa : 

Ilmu Tanah dan Agronomi

  

Tumpangsari Kelapa Sawit dengan Kacang Kedelai 

            Pada masa tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (0-3 tahun), kanopi dan perakaran tanaman masih relatif belum berkembang. Sebagian besar lahan tersebut akan terbuka dan memperoleh cahaya matahari secara penuh sehingga dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sela dalam pola tumpangsari.  Pola ini memungkinkan pendapatan tambahan bagi petani selama tanaman kelapa sawit belum berproduksi. Hasil penelitian tumpangsari kelapa sawit TBM dan kedelai yang dilakukan di Kabupaten Asahan menunjukkan bahwa verietas Anjasmoro dengan perlakuan olah tanah, mampu menghasilkan 2,263 ton kedelai kering/ha areal kelapa sawit; lebih tinggi dibanding produksi varietas lokal yang mencapai 1,808 ton kedelai/ha.  Keuntungan yang diperoleh pada pemakaian varietas Anjasmoro sebesar Rp.5.228.417,- per musim tanam yang merupakan tingkat keuntungan tertinggi.  Meskipun demikian, B/C ratio tertinggi diperoleh dari penggunaan varietas lokal yang ditanam dengan sistem oleh tanah.  Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan kelapa sawit TBM tidak terganggu oleh pola tumpangsari tersebut.

           

 

Sistem Peremajaan Uderplanting di Perkebunan Kelapa Sawit 

Sistem peremajaan underplanting memberikan kesempatan kepada pekebun untuk menjaga kontinuitas produksi pada saat peremajaan. Sistem ini juga meminimalkan adanya areal-areal kosong yang dikhawatirkan akan berdampak pada penjarahan lahan seperti yang dewasa ini marak di banyak areal perkebunan yang memasuki masa replanting. Meskipun demikian, beberapa kelemahan sistem ini dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman baru. Kajian terhadap pelaksanaan sistem underplanting telah dilakukan di Kebun Bukit Sentang, Langkat, Sumatera Utara.

Dalam kajian ini, beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi adalah peningkatan serangan Oryctes rhinoceros pada tanaman muda, tingginya potensi serangan penyakit busuk pangkal batang akibat infeksi Ganoderma boninense pada tanaman muda, serta kerusakan tanaman muda akibat tertimpa batang tanaman tua yang telah membusuk. Dari aspek produksi tanaman muda, kajian ini menunjukkan bahwa produktivitas tanaman relatif tidak berbeda jauh antara tanaman muda yang ditanam dengan sistem underplanting dengan sistem peremajaan biasa.

 

 

Kajian fenologi dan produktivitas kelapa sawit di dataran tinggi

             Secara umum diketahui bahwa terdapat  korelasi antara ketinggian tempat dengan karakteristik iklim.   Semakin tinggi posisi ketinggian tempat di atas permukaan laut, maka  intensitas curah hujan semakin tinggi, temperatur udara semakin rendah, intensitas penyinaran berkurang dan kelembaban udara semakin tinggi. Keseluruhan faktor iklim tersebut secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Seiring dengan trend penanaman kelapa sawit di dataran tinggi, beberapa kajian telah dilakukan khusus mengenai hubungan faktor iklim pada berbagai ketinggian tempat dengan pertumbuhan dan produksi kelapa sawit.  Kajian ini dilaksanakan melalui pengamatan berkesinambungan terhadap 20 pohon TM dan 20 pohon TBM di lokasi percobaan Kebun Gunung Bayu, Balimbingan, Marihat dan Bah Birung Ulu PT. Perkebunan Nusantara IV. Lokasi tersebut memiliki variasi ketinggian dari 0 - 250 m dpl, 251 - 500 m dpl,  501 - 750 m dpl, dan 751 - 1000 m dpl.

            Hasil sementara kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa ketinggian tempat (altitude) berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit TM maupun TBM. Pada tahap awal, terlihat adanya perbedaan panjang rachis tanaman pada berbagai ketinggian tempat yang mengindikasikan adanya kompetisi pemanfaatan radiasi surya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa rachis pelepah kelapa sawit pada altitude 0  250 m dpl nyata lebih panjang dibandingkan dengan rachis pelepah kelapa sawit pada altitude 251  500 m dpl, 501  750 m dpl dan 751  1000 m dpl. Untuk kelapa sawit TM, panjang rachis tidak lagi menunjukkan perbedaan nyata sebagai akibat  pertumbuhan tanaman yang sudah stabil.

 

Evaluasi Potensi Lahan Rawa Pasang Surut untuk Budidaya Kelapa Sawit 

            Lahan pasang surut merupakan lahan marjinal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai areal budidaya kelapa sawit. Potensi tersebut didasarkan pada karakteristik lahan maupun luasannya. Meskipun demikian, terkait dengan karakteristik tanah pada lahan pasang surut, pengembangan kelapa sawit di lahan pasang surut dihadapkan pada berbagai tantangan baik dalam pengelolaan lahan, kultur teknis maupun investasi untuk pembangunan infrastruktur. Untuk itu, pengembangan lahan rawa pasang surut memerlukan perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan yang tepat serta penerapan teknologi yang sesuai, terutama pengelolaan tanah dan air.  Dengan upaya seperti itu diharapkan lahan rawa pasang surut dapat menjadi lahan perkebunan kelapa sawit yang produktif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

            Kajian terhadap karakteristik lahan rawa pasang surut di perkebunan kelapa sawit telah dilakukan melalui pengamatan profil tanah Typic Sulfaquent dan Sulfic Endoaquept di Sumatera Selatan. Perbedaan utama kedua jenis tanah tersebut  adalah kedalaman lapisan pirit. Typic Sulfaquent memiliki lapisan pirit pada kedalaman sekitar 50 cm dari permukaan tanah, sedangkan tanah Sulfic Endoaquepts memiliki kedalaman pirit sekitar 100 cm. Pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit umumnya semakin baik dengan semakin dalamnya posisi lapisan pirit dari permukaan tanah. Secara umum, pertumbuhan tanaman dan produksi kelapa sawit pada lahan rawa pasang surut yang memiliki kandungan pirit juga sangat ditentukan oleh kualitas kultur teknis khususnya pengaturan tata air.  Kondisi tata air yang efektif mampu mengendalikan drainase sesuai kebutuhan tanaman, sekaligus mampu mencegah over drainage yang dapat mengakibatkan oksidasi pirit secara berlebihan.

            Hasil penelitian di Sumatera Selatan tersebut menunjukkan bahwa secara umum, budidaya kelapa sawit pada lahan pasang surut dengan jenis tanah sulfat masam masih dapat dilakukan, namun dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu: (1) kedalaman lapisan pirit harus lebih dalam atau sama dengan 90 cm dari permukaan tanah; dan (2) pembangunan sistem tata air yang efektif untuk mencegah terjadinya oksidasi pirit sekaligus menyediakan ruang yang cukup untuk perakaran, yaitu dengan mempertahankan ketinggian air pada level sekitar 70 cm dari permukaan tanah.

Kegiatan Penelitian Lain 

            Sepanjang tahun 2007 terdapat beberapa kegiatan penelitian lain yang dilakukan oleh para peneliti KITA, di antaranya adalah perbaikan pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit melalui pemupukan berimbang, upaya perbanyakan generatif Mucuna bracteata, upaya rehabilitasi lahan bekas tambang, pengendalian penyakit busuk pangkal batang melalui penanaman sistem lubang besar,  dan aplikasi GIS untuk optimalisasi produktivitas tanaman kelapa sawit. Penelitian mengenai pemupukan berimbang pada budidaya kelapa sawit dilakukan di Kebun Bukit Sentang melalui aplikasi berbagai taraf pemupukan K-Mg dan N-P pada tanaman kelapa sawit menghasilkan. Penelitian ini masih berjalan dan sementara belum menunjukkan adanya pengaruh yang optimal dari keseimbangan hara baik K-Mg maupun N-P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit. 

Mucuna bracteata adalah tanaman kacangan penutup tanah yang mulai popular  digunakan di areal TBM kelapa sawit sejak  akhir 1990-an. Permintaan biji kacangan ini semakin meningkat, sedangkan untuk memenuhi permintaan pasar masih mengandalkan impor dari negara produsen seperti India. Untuk menjawab tantangan ini, peneliti KITA telah berhasil mengembangkan teknologi perbanyakan generatif 

M. bracteata melalui penelitian yang dilakukan di Berastagi, Kabupaten Tanah Karo  dan di Sibosur, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian sepanjang tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah polong yang mampu menghasilkan biji berkisar 3-15 polong per tangkai. Secara umum produksi pada musim kemarau lebih sedikit dibandingkan pada musim hujan, namun kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan produksi biji pada musim hujan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi biji di Sibosur secara umum lebih rendah daripada di Berastagi, namun viabilitasnya lebih baik yaitu 90% untuk biji M. bracteata dari Sibosur dan 80% untuk biji M. bracteata dari Berastagi.

            Penelitian untuk menghasilkan teknologi pengendalian serangan penyakit busuk pangkal batang melalui aplikasi kultur teknis lubang besar, pembersihan lahan dari biomasa tanaman tua, dan aplikasi TKS dilaksanakan di kebun percobaan Aek Pancur.  Percobaan ini dimulai pada tahun 2005 dan pada tahun 2007 masih berada pada tahapan TBM. Hasil pengamatan sementara menunjukkan bahwa belum dijumpai adanya indikasi serangan penyakit busuk pangkal batang akibat infeksi Ganoderma boninense pada seluruh tanaman muda pada percobaan ini. Pengamatan lanjutan akan terus dilakukan pada tahun-tahun mendatang.

            Peneliti KITA pada tahun 2007 telah mengaplikasi-kan bahan-bahan pembenah tanah seperti dolomit, zeolit, asam humat, litter, dan kompos TKS pada media tanah bekas tambang timah yang diambil dari Pulau Bangka sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lahan bekas tambang untuk budidaya kelapa sawit. Secara umum, kompos TKS menghasilkan pertumbuhan bibit pre nursery yang paling baik dibandingkan dengan aplikasi bahan pembenah tanah lainnya. Percobaan lanjutan pada bibit main nursery saat ini masih berlangsung.

            Pengaplikasian SIG untuk optimalisasi produktivitas tanaman kelapa sawit tetap menjadi perhatian pada kegiatan penelitian KITA. Untuk  tahun 2007, telah dilakukan perakitan aplikasi Sistem Informasi Geografi yang berbasis Web untuk Kebun Bukit Sentang. Aplikasi tersebut memuat informasi berbasis spasial seperti informasi produksi, hasil analisa hara tanah, penelitian-penelitian KITA, dan sebaran  curah hujan. Aplikasi ini bersifat open source sehingga tidak memerlukan software SIG untuk pengoperasiannya.


Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12151
  • Unique Visitor: 3099
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18