Pilihan Bahasa : 

Diskusi Terbatas Ahli Ekonomi Pertanian

 

RUMUSAN
 DISKUSI TERBATAS AHLI EKONOMI PERTANIAN
Bogor, 11 Oktober 2008
 
DARI KRISIS FINANSIAL GLOBAL KE RESESI GLOBAL:
LANGKAH-LANGKAH ANTISIPASI YANG HARUS DIPERBUAT UNTUK PENYELAMATAN SEKTOR PERKEBUNAN INDONESIA
 
Kita Harus Serius Mencermati Krisis Global
 
Krisis finansial global kini melanda di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara maju Eropa diantaranya Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, dan Belanda telah terasa dampaknya ke berbagai negara partner dagang AS dan negara­negara Eropa ke negara-negara Asia, seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India. Krisis finansial ini diperkirakan akan menyebabkan resesi ekonomi di Amerika Serikat dan berbagai negara di atas mulai akhir tahun 2008. IMF dan berbagai lembaga terkenal memperkirakan pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi melambat bahkan negatif. Konsekuensinya pertumbuhan output dan permintaan output mulai turun sampai negatif yang pada gilirannya menyebabkan permintaan komoditas perkebunan turun.
 
Tanda-tanda ke arah resesi ekonomi dunia mulai nampak dengan harga saham di berbagai negara jatuh, importir di negara-negara yang terkena krisis mengalami kesulitan likuiditas, dan harga-harga berbagai komoditas perkebunan anjlok. Sebagai gambaran, harga CPO Cif Rotterdam pada bulan Juli 2008 sempat mencapai US$ 1.200 per ton menjadi hanya US$ 700 per ton (turun sekitar 40%) minggu kedua bulan Oktober 2008. Harga karet di Kuala Lumpur pada akhir bulan Juni mencapai rekor US$ 3,3 per kg turun 33% menjadi US$ 2,2 per kg minggu kedua bulan Oktober 2008. Dampaknya langsung dirasakan petani, yaitu harga Tandan Buah Segar (TBS) saat ini hanya sekitar Rp. 600-700 per kg dan harga bahan olah karet hanya sekitar Rp. 6.000 per kg.
 
Seperti diketahui, Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol dan Belanda adalah pasar bagi berbagai komoditas perkebunan Indonesia, seperti karet, kakao, kopi, kelapa sawit, teh, dan lada. Cina, Jepang, India, Korea Selatan, dan India yang merupakan partner dagang AS dan negara-negara Eropa juga terkena imbas. Padahal Negara­negara tersebut adalah juga pasar bagi komoditas perkebunan Indonesia.
 
Krisis finansial global yang nampaknya tidak terkendali dan justru mengarah ke resesi global tentunya merupakan ancaman serius bagi kelangsungan pembangunan perkebunan di Indonesia. Pelaku perkebunan Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, utamanya US$, untuk memperoleh berkah karena krisis likuiditas dan resesi global memunculkan musibah yang lebih besar. Krisis likuiditas dan resesi global terutama yang dialami oleh negara-negara tersebut di atas dapat menunda bahkan menghentikan kontrak-kontrak pembelian komoditas perkebunan yang berasal dari Indonesia. Sebagai akibat langsung dari keadaan tersebut adalah akan terjadinya excess supply yang akan mengakibatkan jatuhnya harga komoditas perkebunan.
 
Daya tahan perkebunan Indonesia (perusahaan perkebunan BUMN clan swasta serta petani perkebunan rakyat) diuji. Sangat mungkin, manajemen operasional/usahanya para pelaku usaha tersebut menjadi terganggu sehingga produksi clan produktivitas turun, biaya produksi naik, clan usaha merugi serta kebun menjadi terlantar. Jika tidak ada langkah penyelamatan yang dipersiapkan sejak dini, maka perkebunan Indonesia akan menghadapi masa depan yang suram.
 
 
Mengetahui Saja Tidak Cukup, Kita Harus Berbuat yang Efektif clan Efisien
 
Perkebunan Indonesia terancam, tapi perkebunan Indonesia mempunyai modal clasar: keunggulan komparatif clan beberapa komoditas (minyak kelapa sawit, karet clan kakao) mempunyai daya saing yang cukup bagus. Namun justru komoditas-komoditas tersebut yang sangat mungkin mengalami goncangan terkuat dibandingkan komoditas perkebunan lainnya karena pasar ke tiga komoditas tersebut terkena resesi. Masalahnya, komoditas lain terkait dengan daya saingnya yang lemah. Dari sisi pelaku, petani perkebunan rakyat relatif lemah sehingga mereka perlu diutamakan untuk diselamatkan.
Untuk menyelamatkan usaha perkebunan Indonesia, langkah antisipatif perlu disiapkan sekaligus diimplementasikan, baik yang bersifat fundamental maupun penunjang. Sasarannya adalah agar komoditas dan produk perkebunan Indonesia dapat dijual dengan beban biaya output minimum. Diskusi terbatas ahli eknonomi clan ahli perkebunan merekomendasikan langkah-langkah antisipasi sebagai berikut.
 
Langkah Fundamental Jangka Pendek
 
  1. Mencari pasar ekspor tambahan atau alternatif untuk komoditas perkebunan dengan tetap menjaga pasar yang ada dalam kerangka diversivikasi pasar.
Komoditas
Pasar Utama Saat Ini
Pasar Alternatif/Tambahan
Kelapa Sawit:
 
 
CPO
India, Belanda, Singapura,
Tanzania clan Vietnam
 
Malaysia, Sri Lanka, Cina,
 
 
Pakistan
 
Olahan CPO
Cina, Pakistan, India,
Turki, Rusia, Myanmar,
 
Mesir, Ban lades, Belanda
Tanzania clan Iran
Karet:
 
 
RSS
Jepang, Cina, AS, Belgia,
Korea, Taiwan, clan Brazil
 
Singapura
 
TSR
AS, Cina, Singapura,
Turki, Meksiko, Iran,
 
Jean clan Korea Selatan
Polandia clan Rusia
Kakao
Malaysia, AS, Brazil,
Kanada clan Jepang
 
Sin a ura clan Cina
 
Kopi:
 
 
Kopi Tanpa Disangrai clan
AS, Jepang, Jerman, Italia
Belgia, Spanyol, Kanada
Dihilangkan Kafeinnya
clan Singapura
clan Swis, serta pasar
 
 
domestik
Kopi Disangrai dan
Malaysia clan Hongkong
Taiwan, pasar domestik
Dihilangkan Kafeinnya
 
 
_Teh:
 
 
Teh hijau dalam kemasan
Australia, Selandia Baru,
Rusia clan pasar domestik
kurang dari 3kg
Malaysia clan Singapura
 
Teh hijau dalam kemasan
Afganistan, Taiwan clan
Rusia clan Jepang serta
lebih dari 3kg
Belanda
pasar domestik
Teh hitam dalam kemasan
UK, Pakistan, Rusia,
Ukraina, Jepang, Kanada
kurang dari 3kg
Belanda clan AS
clan Australia serta pasar
 
 
domestik
Teh hitam dalam kemasan
Rusia, Pakistan, Inggris,
Ukraina, Australia clan
lebih dari 3kg
Malaysia clan Jerman
Jepang serta pasar
 
 
domestik
Lada:
 
 
Lada dengan nomor SITC
India, Jerman, Vietnam, AS
Malaysia, Singapura clan
090411
dan Belanda
Swis serta pasar domestik
Lada dengan nomor SITC
Jepang, AS, Korea Selatan
Malaysia, Australia clan
090412
dan Belanda
Kanada serta pasar
 
 
domestik
 
Khusus untuk komoditas perkebunan yang diimpor, perlindungan terhadap produsen dalam negeri tetap diperlukan. Kebijakan impor melalui instrumen perdagangan yang berlaku saat ini, seperti untuk gula clan kakao, tetap perlu dipertahankan. Instrumen kebijakan impor tidak perlu dilonggarkan untuk mencegah masuknya komoditas dan produk perkebunan asing menyerbu pasar Indonesia.
selanjutnya .......

 

(C) 2008 Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Designed by PT Data Kreasi Indotama and maintaned by M. Thamrin Nst.

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 2235
  • Unique Visitor: 760
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.98
  • Since: 2010-01-10