Paket Teknologi
|
Peningkatan produksi kelapa sawit tidak luput dari pemilihan benih dan pengelolaan yang tepat untuk menjamin kesinambungan produktivitas kelapa sawit. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian di kelompok Bioteknologi Tanaman diarahkan untuk mendapatkan marka molekuler yang dapat membedakan ketiga varietas kelapa sawit (Dura, Tenera dan Pisifera) di pembibitan isu lingkungan telah dikembangkan metoda pengendalian hama yang ramah lingkungan dengan menggunakan Feromon untuk menangkap serangga hama secara massal. Hal-hal yang mengancam penurunan produktifitas seperti penyakit baik yang berasal dari luar negeri maupun domestik juga di monitor dan dideteksi dengan menggunaka Peningkatan potensi produksi kelapa sawit secara konvensional sangat sulit dilakukan karena sempitnya kisaran genetik yang dimiliki. Oleh karena itu perbanyakan secara kultur jaringan pada individu tanaman unggul merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit yang lebih tinggi kira-kira 20-30% jika dibandingkan dengan kelapa sawit DxP. Produksi dan pengujian Feromon untuk Oryctes rhinoceros Aplikasi mulsa TKS yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua. Upaya terkini dalam mengendalikan kumbang tanduk adalah penggunaan perangkap feromon. PPKS saat ini telah berhasil mensintesa feromon agregat (dengan nama dagang Feromonas) untuk menarik kumbang jantan maupun betina. Feromon agregat ini berguna sebagai alat kendali populasi hama dan sebagai perangkap massal. Rekomendasi untuk perangkap massal adalah meletakkan satu perangkap untuk 2 hektar. Pada populasi kumbang yang tinggi, aplikasi fero |
|
Dampak penyakit Kalimantan Wilt oleh Phytoplasma pada kelapa terhadap perkebunan kelapa sawit |
|
Pe Penyakit Kalimantan wilt ini dikuatirkan akan menyebar dan menyerang tanaman kelapa sawit mengingat kasus yang terjadi pada penyakit Kerala wilt. |
|
Deteksi Dini Kemurnian Varietas Tanaman Kelapa Sawit |
|
Dalam rangka pencarian marka molekuler untuk membedakan tipe/varietas kelapa sawit telah dilakukan eksplorasi terhadap ribosomal DNA (rDNA) dimana region ini meliputi small subunit, internal transcribed spacer 1 (ITS1), 5.8S, internal transcribed spacer 2 (ITS2), large subunit, intergenic Hasil amplifikasi PCR dari varietas pisifera dengan primer utomo1- ITSC26 menghasilkan pita DNA berukuran 850 bp dan setelah dilakukan sekuensing di lembaga Eijkman, Jakarta. Dari analisa program BLASTX dan homologi dengan sekuen pada daerah yang sa |







n basis DNA.
mon diterapkan satu perangkap untuk satu hektar.
nyakit baru yang berjangkit pada tanaman kelapa sawit adalah Lethal wilt (Marchitez letal), dilaporkan menyerang kelapa sawit di daerah Kolombia bagian timur. Penyebab penyakit ini telah diidentifikasi oleh Alvarez dan Claroz sebagai Phytoplasma dan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut penyakit ini telah dilakukan eradikasi seluas 400 ha tanaman kelapa sawit pada tahun 2002. Di India, sebagai tanaman “tamu”, kelapa sawit juga diserang oleh Phytoplasma penyebab penyakit Kerala wilt dan dilaporkan sebanyak 15.000 pohon kelapa sawit mati karena penyakit ini. Di Indonesia sendiri, khususnya di Kalimantan Tengah telah berjangkit penyakit Kalimantan wilt pada tanaman kelapa yang juga disebabkan oleh Phytoplasma.
spacer 1 (IGS1), 5S dan intergenic spacer 2 (IGS2). Studi dengan menggunakan enzim pemotong (restriction enzyme) pada tanaman maupun hewan membuktikan bahwa region ITS dan IGS dalam suatu populasi dari satu spesies bervariasi sehingga region ini mempunyai potensi untuk dieksploitasi guna menemukan marka yang dapat membedakan ketiga varietas kelapa sawit. Selain itu, DNA ribosomal mudah diekstraksi jika dibandingkan DNA kromosomal dan yang lebih menguntungkan menjadikan daerah ini sebagai target adalah di mana dalam satu ribosomal terdiri lebih dari 200 repeat unit sehingga akan memudahkan untuk diamplifikasi dengan PCR.
ma pada tanaman lain dapat disimpulkan bahwa daerah 18S, ITS termasuk 5.8S dan 26S pada kelapa sawit Pisifera telah teramplifikasi. Untuk itu perlu didesain primer yang bersifat universal untuk ketiga varietas kelapa sawit dan dengan menggunakan enzim pemotong (restriction enzyme) diharapkan dapat membedakan ketiga varietas kelapa sawit (Dura, Tenera dan Pisifera).